In House Training Triage dan Early Warning Score (EWS) berkerjasama dengan Medilight Malang Jawa Timur

RSUD Ambarawa mengadakan In House Training “Triage” dan “Early Warning System (EWS)” pada tanggal 07 s.d. 09 November 2018 di Ruang Serbaguna RSUD Ambarawa Provinsi Jawa Tengah. Tujuan Umum diadakannya Pelatihan ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan psikomotor petugas dalam mendeteksi terjadinya perburukan / kegawatan kondisi pasien yang tujuannya mencegah hilangnya nyawa seseorang dan mengurangi dampak yang lebih parah dari sebelumnya di RSUD Ambarawa

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Direktur RSUD Ambarawa menjalani dr. Rini Susilowati ., M.Kes., MM dilanjutkan sambutan oleh dr. Ali Heidar Sp. EM selaku penanggung Tim Instruktur Pelatihan dari Medilight Malang.

Adapun peserta In House Training adalah 80 peserta meliputi Dokter Umum, Manajer Ruang, Ketua Tim dan Perawat Pelaksana di RSUD Ambarawa.  In House Training Triage dan Early Warning Score1

In House Training Triage dan Early Warning Score4

INFORMASI DASAR HIV AIDS

Situasi HIV /AIDS di Indonesia

Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/ AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten / kota di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan keberhasilan bahwa semakin banyak orang dengan HIV /AIDS (ODHA) yang diketahui statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium AIDS.

Data Cascade dari Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang sampai dengan bulan Oktober 2018 tercatat, ODHA yang masuk dalam perawatan sebanyak 617 orang, yang memenuhi syarat pemberian obat Anti Retro Virus (ARV) sebanyak 598 orang, pernah memulai minum ARV sebanyak 553 orang, meninggal dunia sebanyak 135 orang, menghentikan ARV 116 orang, loss Follow Up (LFU) sebanyak 25 orang, dirujuk keluar Kabupaten Semarang sebanyak 96 orang dan yang sampai saat ini rajin minum obat ARV sebanyak 181 orang.

Sedangkan data kasus HIV/ AIDS di RSUD Ambarawa tercatat jumlah kunjungan di Klinik Melati / Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) selama tahun 2018 sampai bulan Nopember, dari 136 klien yang berkunjung ke Klinik Melati terdapat 10 klien yang HIVnya positif. Sedangkan jumlah kunjungan PITC (Provider Initiated HIV Testing and Counselling) dari 157 klien yang diperiksa terdapat 14 klien yang HIV nya positif.. Untuk jumlah kumulatif orang yang pernah mulai pengobatan ARV di RSUD Ambarawa sampai akhir bulan Nopember ini untuk laki-laki sebanyak 149 orang dan untuk perempuan sebanyak 158 orang sehingga jumlah kumulatif ODHA yang masuk dengan ARV dari RSUD Ambarawa sebanyak 307 orang. Adapun ODHA dengan ART di RSUD Ambarawa saat ini berjumlah 94 orang, terdiri dari 41 orang laki-laki dan 53 perempuan.

 

Pengertian HIV / AIDS

 HiVDesember8

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang

menyebabkan AIDS. Seseorang yang terinfeksi HIV, akan  

mengalami infeksi seumur hidup. Kebanyakan orang dengan  

HIV/AIDS (ODHA) tetap asimtomatik (tanpa tanda dan gejala dari suatu penyakit ) untuk jangka waktu panjang namun dapat menularkan kepada orang lain.

HIV dapat ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, cairan semen / sperma, cairan vagina dan air susu ibu Orang dengan HIV / AIDS sangat rentan tertular infeksi lain seperti IMS, Hepatitis dan TB. Dimana Infeksi ini dapat berdiri sendiri maupun bersifat ko-infeksi terhadap HIV.

HiVDesember1

Salah satu prinsip untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV adalah melalui pemeriksaan darah yang disebut dengan tes HIV. Tes HIV sukarela dilaksanakan setelah klien dilakukan konseling dan klien memberikan persetujuan untuk tes HIV (informed consent). Diagnosis infeksi HIV yang lazim digunakan berdasarkan atas penemuan antibodi HIV dalam darah orang yang terinfeksi.

Sedangkan AIDS adalah suatu gejala berkurangnya kemampuan pertahan diri yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh disebabkan oleh virus HIV

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome

Acquired”   : Tidak diturunkan dan dapat menularkan kepada orang lain

Immune”     : Sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit

Deficiency” : Berkurangnya kurang atau tidak cukup

Syndrome” : Kumpulan tanda dan gejala penyakit.

Seperti yang kita ketahui, tubuh manusia memiliki sel darah putih (limfosit) yang berguna sebagai pertahanan tubuh dari serangan virus maupun bakteri. Virus HIV yang masuk tubuh manusia dapat melemahkan bahkan mematikan sel darah putih dan memperbanyak diri, sehingga lemah, melemahkan sistem kekebalan tubuhnya (CD4).

Infeksi HIV tidak segera menghabiskan / menghancurkan sistem kekebalan tubuh tetapi akan terus bereplikasi dan menginfeksi.

Dalam kurun waktu 5-10 tahun setelah terinfeksi HIV, seseorang dengan HIV positif jika tidak minum obat anti retroviral (ARV), akan mengalami kumpulan gejala infeksi opportunistik yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh akibat tertular virus HIV, sampai akhirnya sistem kekebalan tubuh hancur dan tubuh tidak dapat melawan infeksi-infeksi lain yang menyerang tubuh. Pada saat kekebalan tubuh melemah dan tidak sanggup lagi melawan infeksi yang menyerang tubuh dan infeksi-infeksi tersebut berkumpul maka ini yang disebut dengan AIDS.

HiVDesember2

 

Window Period / Masa Jendela

Window period atau disebut juga Masa Jendela adalah periode antara masuknya HIV hingga terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Periode ini sekitar 12 minggu. Selama masa jendela, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif, namun pasien sangat infeksius, mudah menularkan HIV kepada orang lain. Hampir 50-70% orang mengalami masa infeksi akut pada masa jendela ini yakni berupa demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan batuk.

Cara Penularan HIV

Dapat ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman berisiko, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh, serta dari ibu hamil yang positif dengan HIV dapat menularkan kepada bayinya.

Seseorang yang terinfeksi virus HIV berpotensi menularkan meski tidak memiliki ciri yang dapat dilihat secara kasat mata (fisik). Status HIV seseorang hanya dapat diketahui dengan melakukan cek/pemeriksaan darah di laboratorium. Karena itu, Jika merasa pernah melakukan perilaku berisiko atau merasa berisiko tertular segera lakukan tes HIV.

Kegiatan yang Tidak Menularkan HIV

Perlu dicatat bahwa HIV tidak ditularkan dari orang ke orang melalui kegiatan sebagai berikut:

 

                                 

Infeksi Oportunistik (IO)

Infeksi Oportunistik (IO) adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, tetapi dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk. Mereka membutuhkan "kesempatan" untuk menginfeksi seseorang. Ketika sistem kekebalan tubuh menurun maka dapat terjadi infeksi oportunistik.

  • Infeksi oportunistik bisa disebabkan oleh berbagai virus, jamur dan bakteri
  • Infeksi dapat terjadi pada berbagai bagian tubuh termasuk kulit, paru-paru, mata dan otak
  • Infeksi oportunistik dapat disembuhkan
  • Infeksi oportunistik bahkan dapat dicegah sebelum muncul dengan terapi pencegahan yaitu terapi profilaksis (contohnya kotrimoksasol)
  • Profilaksis dapat digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi oportunistik
  • Beberapa jenis infeksi oportunistik yang paling umum di Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2010)

-          TB (Tuberculosis) paru

-          Diare kronis

-          Berbagai jamur seperti jamur di mulut (oral candidiasis)

-          Dermatitis Oro-faringeal

-          Limfadenopathy Generalisata Persisten

Tahapan infeksi HIV

HiVDesember5

n  Tahap Serokonversi : infeksi awal, belum ada antibodi

n  Tahap Asimtomatik : belum ada gejala yang dirasakan

n  Tahap Simtomatik : Mulai merasakan gejala : Infeksi Oportunistik

n  Tahap AIDS

Pengobatan HIV

HIV itu ada obatnya, anti retro viral (ARV) namanya. Obat ARV mampu menekan jumlah virus HIV di dalam darah sehingga kekebalan tubuhnya (CD4) tetap terjaga. Sama seperti penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, kolesterol, atau DM, obat ARV harus diminum secara teratur, tepat waktu dan seumur hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA serta dapat mencegah penularan.

ARV dijamin ketersediaannya oleh pemerintah dan gratis pemanfaatannya. Pelayanan ARV sudah dapat diakses di RS dan Puskesmas di 34 provinsi, 227 Kab / Kota. Total saat ini terdapat 896 layanan ARV, terdiri dari layanan yang dapat menginisiasi terapi ARV dan layanan satelit. Dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekat sangat dibutuhkan agar ODHA tetap semangat dan jangan sampai putus obat.

Pencegahan tertularnya virus HIV  

Berperilaku hidup bersih dan sehat merupakan salah satu pencegahan terjadinya penularan HIV dan menggunakan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga kesehatan dan sejenisnya. Tidak perlu menjauhi ODHA,untuk itu menjadi ODHA Terinfeksi HIV bukanlah penghalang untuk bersosialisasi, bekerja, dan berkeluarga.

Selain itu, untuk pencegahan infeksi dan penularan HIV, masyarakat perlu mengingat hal-hal sebagai berikut :

1. Bagi yang belum pernah melakukan perilaku berisiko, pertahankan perilaku aman  

     (dengan tidak melakukan perilaku seks berisiko atau menggunakan narkoba suntik);

2. Bila sudah pernah melakukan perilaku berisiko, lakukan tes HIV segera.
     - Bila tes HIV negatif, tetap berperilaku aman dari hal-hal yang berisiko menularkan

       HIV
   - Bila tes HIV positif, selalu gunakan kondom saat berhubungam seksual, serta patuhi

       petunjuk dokter dan minum obat ARV, agar hidup tetap produktif walaupun positif

       HIV;
3. Jika bertemu ODHA, bersikap wajar dan jangan mendiskriminasi atau memberikan

   cap negatif, dan berikan dukungan; dan

4. Jika berinteraksi dengan ODHA, jangan takut tertular, karena virus HIV tidak menular

     baik itu melalui sentuhan, keringat, maupun berbagi makanan. HIV hanya menular

     melalui cairan kelamin dan darah.

Hari AIDS Sedunia (HAS)

Hari pertama di bulan Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Sejak tiga dasawarsa lalu, tanggal 1 Desember menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran semua orang terhadap penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV).

HiVDesember7

Upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero  pada 2030, yaitu: 1) Tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, 2) Tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan 3) Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Dalam rangka mencapai target Three Zero tersebut diupayakan percepatan pencapaian target dengan program Fast Track 90-90-90, Kementerian Kesehatan juga menggaungkan strategi akselerasi Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) untuk mencapai target tahun 2030 tersebut. Tahun ini, diluncurkan pula strategi Test and Treat, yaitu ODHA dapat segera memulai terapi ARV begitu terdiagnosis mengidap HIV.

Narasumber : dr.Kusworo Yulianto - Kasi Pelayanan Medik RSUD Ambarawa

 

 

Jalan Santai dan Perlombaan di RSUD Ambarawa Memeriahkan HUT Ke-73

Dalam rangka memeriahkan semarak HUT Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia, hari ini Jum’at, 10 Agustus 2018 diselenggarakan jalan santai di RSUD Ambarawa yang diikuti oleh karyawan dan karyawati RSUD Ambarawa. Dalam partisipasi itu di sekolah melibatkan semua staf mulai dari Struktural hingga Cleaning Service. Jalan santai itu dimulai jam 07.00 dan dilepas oleh Direktur RSUD Ambarawa. Jalan santai mengambil rute dengan start di lapangan parkir belakang RSUD Ambarawa dan finish kembali di tempat yang sama.

Dalam acara tersebut oleh panitia juga sudah disediakan kupon berhadiah. Berbagai hadiah tersedia dari kenang-kenangan hingga barang elektronik. Antusiasme peserta jalan santai sangat tinggi, terlibat banyaknya peserta yang memadati lapangan. Setelah sampai di lapangan kembali, peserta jalan santai dimanjakan dengan hidangan dari instalasi Gizi sambil menunggu pengundian kupon berhadiah.

Selain itu karyawan dan karyawati memeriahkan acara dengan berbagai lomba, seperti lomba kebersihan antar ruangan dan antar rumah dinas, lomba makan kerupuk, lomba memasukan air dengan memakai caping, lomba kempit 3 balon, lomba jilbab cantik, lomba hantaran, lomba bulu tangkis dan lomba futsal. Kegiatan ini berlangsung meriah dengan acara yang dikemas apik serta menyenangkan.

JalanSantai2018

Pelepasan peserta Jalan Santai oleh Direktur RSUD Ambarawa

Suasana Jalan Santai

Suasana Lomba Kempit 3 Balon

Suasana Lomba makan kerupuk

Hasil peserta lomba Hantaran

Hasil Lomba peserta jilbab cantik

KEGIATAN BIMBINGAN TEKNIS DAN MONITORING EVALUASI LAYANAN VCT PERHIMPUNAN KONSELOR VCT HIV INDONESIA (PKVHI) PUSAT DI RSUD AMBARAWA

RSUD Ambarawa menerima kunjungan dari PKVHI pusat diwakili oleh dr Rosalia Linna Juniar dan Ns. Elly Gultom., S.Kep didampingi PKVHI wilayah jawa tengah pada hari Jum’at 28 September 2018.

Kegiatan diawali silahturahmi dengan direktur RSUD Ambarawa dr. Rini Susilowati., M.Kes, MM didampingi oleh dr. Kusworo Yulianto sebagai ketua PKVHI cabang Kabupaten Semarang sekaligus sebagai tim HIV di RSUD Ambarawa.

Kunjungan dilanjutkan ke Instalasi Laboratorium untuk meninjau dan memberikan masukan tentang alat dan reagen yang digunankan untuk tes HIV. Kemudian dilanjutkan kunjungan di Ruang Melati ( VCT) untuk melakukan BIMTEK dan MONEV terhadap layanan konseling dan tes HIV serta penguatan jejaring konselor HIV.

Di Ruang Serba Guna dilakukan diskusi dari hasil peninjauan ke Layanan HIV di RSUD Ambarawa. Dihadiri oleh PKVHI wilayah jawa tengah, DInas Kesehatan sebagai stakeholder, semua tim HIV/AIDS RSUD Ambarawa dan KDS Melati. dr Rosalia Linna Juniar dan Ns. Elly Gultom., S.Kep berpesan “ Rumah Sakit ini memiliki elemen layanan dan jejaring yang lengkap yang pernah diselenggarakan PKVHI Pusat dikarenakan peran aktif Tim HIV/AIDS dan pelibatan KDS dalam memantau dan mendampingi pasien HIV”.

Kunjungan PKVHI1

Kunjungan PKVHI2

Kunjungan PKVHI3

Kunjungan PKVHI4

Kunjungan PKVHI5

 

 

 

 

Kunjungan Kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak di RSUD Ambarawa

 

Kamis, 8 September 2016,  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)  Prof. DR. Yohana Susana Yambise, Dip.Apling, MA berserta staff berkunjung di RSUD Ambarawa . Ibu Yohana Susana Yambise didampingi Bupati Kabupaten Semarang dr. Mudjirin, ES, Sp.OG dan Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia Seto Mulyadi.

 

Dengan dipandu oleh direktur RSUD Ambarawa dr. Rini Susilowati, M.Kes, MM, Menteri Yohana beserta rombongan melaksanakan hospital tour dengan mengunjungi fasilitas rumah sakit ramah anak diantara lain Pusat  Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2), taman bermain anak, ruang menyusui,  ruang peninatologi, dan perpustakaan anak. 

 

Pada kunjungan tersebut Menteri Yohana mengungkapkan bahwa RSUD Ambarawa akan dijadikan percontohan nasional sebagai rumah sakit ramah anak. Menteri Yohana mengapresiasi kinerja pengelola rumah sakit dengan memberikan beberapa bantuan guna menunjang kegiatan anak-anak di panti tersebut dan mengharapkan prestasi ini bisa menjadi model untuk diaplikasikan di daerah lainnya.

 

 "Dengan fasilitas yang ada, RSUD Ambarawa ini sudah ramah anak. Kami akan jadikan RSUD ini sebagai percontohan nasional," kata Yohana.


Tampak beliau Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak beserta rombongan sangat puas dengan layanan rumah sakit ramah anak  di RSUD Ambarawa

 

kunjungan menteri1

 

kunjungan menteri2

 

kunjungan menteri7

 

kunjungan menteri4

 

kunjungan menteri5

 

kunjungan menteri6

Subcategories